Warngop, salah satu tempat ngopi di Bandung Timur

Tempat Ngopi di Bandung Timur yang Lahir dari Keresahan: Cerita Warngop Cibiru Wetan

Di lereng Gunung Manglayang, pohon-pohon kopi milik warga Cibiru Wetan tumbuh subur. Panennya rutin, buahnya melimpah. Tapi ada yang tidak pernah berubah selama bertahun-tahun. Para petani tidak tahu pasti apa jenis kopi yang mereka tanam dan hasil panen itu selalu berakhir di tangan tengkulak dengan harga yang tergolong murah.

Sekilas ini bukan masalah besar. Tapi tidak bagi Ferdi Setia Primadian atau yang akrab disapa Mpey. Dari keresahannya itulah lahir salah satu tempat ngopi di Bandung Timur yang punya cerita berbeda dari kebanyakan: Warngop Cibiru Wetan.

Keresahan yang Tidak Bisa Didiamkan

Mpey melihat dua kenyataan yang hidup berdampingan tanpa pernah bertemu.

Di satu sisi, Cibiru Wetan punya kebun kopi lokal yang sesungguhnya bisa menjadi kebanggaan. Namun, di sisi lain, warga yang sehari-hari suka ngopi justru tidak punya satu pun tempat untuk menikmati kopi itu dengan layak. Dari ujung bawah desa sampai atas  tidak ada kedai kopi sama sekali.

Hal lain yang juga menjadi kekhawatirannya adalah kopi petani lokal Cibiru Wetan dijual dengan harga rendah, lalu entah berakhir di mana.

“Di sini orang pengopi banyak, tapi dari bawah sampai ke atas itu hampir tidak ada kedai kopi. Akhirnya kenapa tidak kita bikin warung kopi sendiri.”

Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin hanya lewat begitu saja. Bagi Mpey, pertanyaan itu menjadi arah. Ia tidak menunggu modal besar, tidak menunggu kondisi sempurna ia mulai dari yang ada, bersama orang-orang yang memiki tujuan yang sama

Tempat Ngopi di Bandung Timur yang Tumbuh dari Komunitas

Warngop tidak lahir sebagai warung. Ia lahir sebagai kebiasaan.

Pada 2019, di wilayah atas desa, Mpey dan beberapa orang berkumpul dengan nama sederhana: Tara Ngopi. Tidak ada meja kasir, tidak ada mesin espresso, tidak ada konsep seperti coffee shop kekinian. Yang ada hanyalah kopi, obrolan, dan satu aturan tidak tertulis yang justru menjadi ciri khas mereka.

Simpan handphone. Bicara satu sama lain.

Di zaman ketika orang lebih mudah menatap layar daripada mengobrol dengan teman di sebelahnya, komunitas ngopi ini memilih arah yang berlawanan. Bagi mereka, ngopi bukan sekadar aktivitas yang dilakukan sendiri, ia adalah ritual sosial dan ritual itu perlu dijaga.

Komunitas ini tumbuh perlahan. Pada 2021–2022, mereka turun ke kawasan desa dan menjangkau lebih banyak orang. Dari situlah lahir nama Warngop — singkatan sederhana yang menyimpan makna filosofis.

“Ngopi, tapi ngobrol pintar.”

Titik balik baru tiba pada 2023, ketika Dome Awi berdiri. Untuk pertama kalinya Warngop punya rumah tetap dan identitasnya sebagai bagian dari kawasan Desa Wisata Cibiru Wetan pun menguat.

Dari Kebun ke Cangkir: Kopi yang Punya Nama Petaninya

Di sinilah inti dari semua yang Mpey bangun.

Kopi yang kamu teguk di Warngop bukan dari supplier besar yang anonim. Ia berasal dari kebun-kebun warga Cibiru Wetan , pohon-pohon kopi  yang tumbuh di kaki Gunung Manglayang  yang selama bertahun-tahun hasilnya dijual ke tengkulak dengan harga hanya Rp4.000 per kilogram. Warngop berani mengubah itu.

“Kalau di tengkulak misalnya empat ribu, kita berani beli lebih. Bisa lima sampai enam ribu. Jadi petani juga lebih dihargai.”

Namun, Mpey tidak berhenti di sana. Ia sadar bahwa menghargai petani bukan hanya soal harga beli, tapi juga soal pengetahuan.

Selama ini, petani di Cibiru Wetan menjual kopi tanpa tahu bahwa arabika dan robusta yang mereka tanam punya nilai yang sangat berbeda di pasaran.

“Di sini itu kopinya tidak spesifik arabika atau robusta, cenderung blend. Di petani mah sudah nyampur.”

Ironisnya, kalau kopi itu berhasil dipisah dan diidentifikasi dengan benar, nilainya bisa dua kali lipat. Kopi arabika dihargai jauh lebih tinggi dari robusta — tetapi karena tidak dipisahkan, semua dijual dengan harga yang sama. Harga yang murah.

Perlahan tapi pasti, Mpey mulai mengedukasi petani. Ia mengenalkan mereka pada perbedaan yang selama ini tidak mereka sadari. Bahkan kepada setiap pengunjung yang datang, ia sampaikan literasi yang sama, bahwa arabika menyerap karakter lingkungan sekitarnya, sehingga kopi yang ditanam di dekat pohon cengkeh akan membawa rasa cengkeh di dalam cangkir.

Ngopi di Warngop bukan sekadar minum, tempat ini menawarkan konsep agrowisata kopi di Bandung yang mengajakmu memahami apa yang ada di dalam cangkirmu  dan siapa yang menanamnya.

Ketika Mimpi Harus Diperlambat

Warngop pernah bermimpi lebih jauh dari sekadar kopi.

Sistem titip jual pernah berjalan, warga menitipkan produk makanan olahan, ikan dari budidaya bioflok dipanen dan disajikan langsung di sini. Sebuah ekosistem kecil yang hidup, di mana setiap bagian dari desa ikut berkontribusi.

Kenyataannya, sistem itu tidak berjalan mulus. Bukan karena tidak ada keinginan, tetapi keadaan yang memaksa.

“Sekarang bukan tidak mau, tapi SDM-nya belum ada. Jadi sementara fokus ke minuman dulu.”

Ada kejujuran yang menyegarkan dalam pengakuan itu. Warngop tidak berpura-pura sempurna. Ia tahu di mana batasnya  dan memilih melangkah dengan pijakan yang kuat daripada berlari tanpa arah. Selama Warngop berdiri, misi awalnya tidak bergeser: menghargai kopi lokal Bandung dan menghargai petani yang menanamnya.

Warngop: Tempat Ngopi di Bandung Timur yang Layak Kamu Kunjungi

Kalau kamu sedang mencari tempat ngopi yang tidak sekadar instagrammable, Warngop menawarkan sesuatu yang lebih unik dan terlupakan. Kamu bisa

Di sini kamu bisa memesan berbagai sajian kopi dengan berbagai cara penyajian seperti V60, Vietnam Drip, dan Kopi Tubruk. Jika kamu penggemar kopi atau kekinian, warngop juga menyediakan kopi gula aren dan minuman non kopi.

Lebih hebatnya, untuk memasttikan karakteristik dan rasa tetap terjamin di setiap tetes kopinya Warngop memiliki dua alat grinder. Jika kamu cukup beruntung, kamu juga dapat merasakan pengalaman menjadi petani kopi dan menikmati hasil panenmu setelah itu!

Setiap cangkir yang kamu pesan di sini bukan sekadar minuman. Ia adalah bentuk penghargaan kecil untuk petani Cibiru Wetan yang selama ini diam-diam dilewatkan. Petani yang kopinya kini, akhirnya, punya tempat untuk dinikmati dengan layak.

Jadi tunggu apalagi, yuk datang ke Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan dan rasakan pengalaman ngopi yang berbeda!

Leave a Reply

Divisi Marketing

Bumdesa Mawa Raharja

Desa Wisata Cibiru Wetan
Jl.Cibangkonol No.26 Desa Cibiru Wetan
Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung, Jawa Barat

Pokdarwis : 0812-2072-9142
desawisatacibiruwetan@gmail.com

Senin – Sabtu 09:00 – 21:00.

Sosial Media

Whatsapp

Recent News

Community Based Tourism Dorong Kemajuan Cibiru Wetan
June 2, 2026By
Kunjungan Telkom University ke Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan untuk belajar budaya sunda
Mahasiswa Asing Telkom University Belajar Budaya Sunda Langsung di Desa Wisata Cibiru Wetan
May 10, 2026By
Pengrajin Anyaman Bambu Bandung yang Memilih Bertahan
May 7, 2026By