Kuliner Tutut Bandung dari Cibiru Wetan Ini Bisa Laku 50 Kg per Hari!
Kecil, mungil, dan bergerak lambat itulah gambaran sederhana dari tutut atau keong sawah yang sering ditemukan di balik rimbunnya padi.
Meski terlihat biasa, hewan ini justru bisa diolah menjadi hidangan yang lezat sekaligus kaya protein dan dikenal sebagai salah satu makanan sunda.
Namun di Desa Cibiru Wetan, bahan sederhana tersebut justru menjadi sumber penghidupan.
Dari sebuah dapur rumahan yang berada tidak jauh dari kantor desa, Nyimas Dea mengolah tutut menjadi salah satu kuliner tutut Bandung yang memiliki pelanggan dari berbagai daerah. Dalam sehari, ia bisa mengolah hingga 50 kilogram tutut untuk memenuhi pesanan yang terus berdatangan.
Awal Mula Usaha Kuliner Tutut di Cibiru Wetan
Usaha kuliner rumahan ini dijalankan oleh seorang perempuan bernama Nyimas Dea. Ia dikenal aktif dalam kegiatan di lingkungan desa.
Tidak pernah terpikir di benaknya bahwa dari awalnya coba-coba justu kini menjadi sumber penghidupannya.
Semua ini berawal ketika Dea mencoba mengolah tutut yang ia dapatkan dari dari kegiatan di lingkungan desa. Jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar satu hingga dua kilogram.
Hasil masakannya tidak langsung dipasarkan, Dea secara sukarel membagikannya ke orang disekitarnya.
Namun respons yang datang ternyata cukup mengejutkan. Beberapa rela membayar untuk mendapatkan olahan tutut ini, najkan memesan dalam jumlah yang banyak
“Akhirnya besok-besok pada pesen, ketagihan dari 2 kilo itu. Akhirnya pesen saya satu ember gede, ember cat 25 kilo.”
Sejak saat itu, pesanan mulai berdatangan dalam jumlah yang lebih besar. Dari percobaan kecil di dapur rumah, usaha ini perlahan berkembang dan mulai dikenal sebagai usaha kuliner rumahan khususnya olahan keong sawah yang nikmat.
Dari Dapur Rumahan ke Pelanggan Se-Bandung
Meski masih diproduksi dari rumah, skala usahanya terus bertambah.
Dalam sehari, Dea mampu mengolah hingga 50 kilogram tutut. Dalam seminggu, jumlahnya bisa mencapai sekitar dua kuintal.
Sebagai pelaku UMKM Bandung, Dea juga aktif mengikuti berbagai pelatihan dan workshop untuk menambah pengetahuan mengenai pengelolaan usaha.
“Akhirnya dengan banyak ikut workshop, saling berbagi. Tahun 2020 mulai, sudah enam tahun. Daftar UMKM, akhirnya melejit.”
Seiring waktu, pelanggan yang datang tidak lagi hanya berasal dari sekitar Desa Cibiru Wetan. Pesanan mulai berdatangan dari berbagai wilayah Bandung dengan latar belakang yang beragam, mulai dari tenaga kesehatan, akademisi, hingga pekerja kantoran.
Sebagian besar pemesanan dilakukan melalui WhatsApp dan sistem pre-order.
“Sekarang sudah banyak pelanggan. Jualannya dari rumah saja, lewat WhatsApp. Reseller juga pada pesan, tinggal antre.”
Proses pembuatan yang memakan waktu
Bagi pelanggan, tutut mungkin hanya hadir sebagai makanan siap santap. Namun proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup panjang.
Setiap hari, Dea memulai aktivitasnya sejak pukul empat pagi.
Pagi itu, hal yang pertama kali dia lakukan sebelum menyulap keong sawah ini menjadi sajian kuliner lokal bandung yang nikmat adalah membesihkannya dari kotoran yang menempel kemudian dipotong, lalu dicuci berulang kali sebelum masuk tahap perebusan.
Proses perebusan dilakukan dengan tambahan garam untuk menghilangkan bau amis sekaligus memastikan tutut aman dikonsumsi. Setelah itu, kembali dibersihkan sebelum akhirnya dimasak dengan bumbu racikan khas. Tahapan yang cukup panjang ini menjadi salah satu kunci penting agar rasa dari olahan keong sawah ini bisa nikmat.
Tidak hanya dari prosesnya, cita rasa juga menjadi daya tarik utama. Dea menghadirkan beberapa varian, mulai dari original, pedas, hingga extra pedas. Di antara ketiganya, varian pedas menjadi favorit banyak pelanggan yang mencari sensasi pedas tetapi dengan rasa yang kuat namun tetap seimbang.
Dengan kombinasi proses yang teliti dan bumbu yang konsisten, tidak heran jika olahan tutut sawah ini mampu mempertahankan kualitasnya dan terus diminati hingga sekarang.
Tidak selamanya usahanya berjalan mulus
Di balik perkembangan usahanya, perjalanan Dea tentu tidak selalu berjalan mulus.
Salah satu pengalaman yang masih diingat Dea terjadi saat ia mengikuti sebuah acara dan membawa sekitar 25 kilogram tutut untuk dijual.
Harapannya cukup sederhana: dagangan habis dan produknya semakin dikenal.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
“Waktu itu bawa 25 kilo, nggak ada yang beli sama sekali. Mereka belum tahu tutut itu apa.”
Saat itu, banyak pengunjung yang belum mengenal olahan keong sawah sehingga ragu untuk mencoba.
Dea pulang dengan ember yang masih penuh. Itu salah satu hari terberat yang ia ingat, tetapi di perjalanan pulang itulah ia menyadari sesuatu.
Tantangan terbesar bukan hanya soal menjual produk dan rasa masakan yang lezat, tetapi juga bagaimana cara dia untuk memperkenalkan olahan tututnya kepada orang yang belum pernah mencobanya.
Sejak saat itu, ia lebih aktif mengikutti kegiatan desa dan berbagai acara yang memungkinkan dirinya untuk memperkenalkan kuliner tutut di Bandung secara langsung.
Peran Desa Wisata dalam Mengembangkan Kuliner Lokal
Perkembangan usaha yang dijalankan Dea juga tidak lepas dari peran lingkungan sekitarnya, khususnya dengan adanya desa wisata Cibiru Wetan. Berbagai kegiatan dan kunjungan yang berlangsung di desa tersebut membuka peluang yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal untuk dikenal.
Melalui acara-acara desa, produk olahan tutut milik Dea sering diperkenalkan kepada para tamu, mulai dari akademisi hingga instansi pemerintahan. Tidak jarang, produk yang dibawa langsung habis diborong dalam satu kesempatan.
“Kalau ada acara di desa wisata, saya bawa jualan, sering langsung habis. Dari situ banyak yang kenal dan pesan lagi.”
Kondisi ini secara tidak langsung menjadikan usahanya sebagai bagian dari kuliner tutut bandung yang mulai dikenal oleh lebih banyak orang. Dukungan ekosistem desa wisata pun membantu memperluas jangkauan pasar tanpa harus melakukan promosi besar-besaran.
Dengan adanya kolaborasi antara pelaku usaha dan kegiatan desa, peluang ekonomi masyarakat pun ikut berkembang. Usaha rumahan seperti yang dijalankan Dea menjadi bukti bahwa potensi lokal bisa tumbuh jika didukung oleh lingkungan yang tepat.
Perlu Perjuangan Untuk Ada di Titik Ini

Hari ini, dari dapur rumahan di Desa Cibiru Wetan, ia mampu mengolah puluhan kilogram tutut setiap hari dan melayani pelanggan dari berbagai wilayah Bandung.
Semuanya berawal dari satu hingga dua kilogram tutut yang dulu hanya dimasak untuk dibagikan kepada orang-orang terdekat.
Penasaran dengan rasanya? Pesan sekarang melalui WhatsApp dengan sistem pre-order, atau kunjungi langsung Desa Wisata Cibiru Wetan untuk menikmati kelezatannya secara langsung!
