Sapi di peternakan cibiru wetan yang sedang memakan rumput

Jam 4 Pagi dan 500 Liter Susu: Kisah di Balik Peternakan Sapi Perah Cibiru Wetan Bandung

Matahari belum menampakkan dirinya, tetapi suara sapi sudah saling bersahutan dari dalam kandang. Di tengah udara dingin pagi hari, beberapa ekor sapi tampak sibuk mengunyah rumput, sementara yang lain menunggu giliran diperah.

Suasana yang tenang perlahan berubah menjadi ritme aktivitas yang sibuk.

Di peternakan sapi perah Cibiru Wetan, rutinitas ini sudah dimulai sejak pukul empat subuh. Saat sebagian besar warga Bandung masih tertidur, para peternak justru sedang memulai hari mereka.

Saat Kita Tidur, Mereka Sudah Mulai Bekerja

Suasana Peternakan Sapi Perah Cibiru Wetan

Salah satu peternak itu adalah Acep.

Sejak 2015, ia bekerja sebagai pemerah susu sapi di kawasan atas Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan. Hampir setiap hari, jadwalnya tidak banyak berubah: memerah susu sebelum matahari terbit, mencari pakan untuk ternak, lalu kembali ke kandang pada sore hari untuk pemerahan berikutnya.

“Kalau ada acara apa-apa, nggak bisa sembarangan langsung berangkat,” ujarnya.

Bagi Acep, pekerjaan ini tidak mengenal hari libur. Selama sapi masih menghasilkan susu, rutinitas itu harus terus berjalan.

Lebih dari 50 Ekor Sapi dan Rutinitas Tiada Henti

Suasana Sapi sedang memakan jerami di Peternakan Sapi Perah Cibiru Wetan

Di kandang tempat Acep bekerja, terdapat sekitar 50 ekor sapi perah yang dirawat setiap hari. Proses pemerahan dilakukan oleh dua orang pekerja dan membutuhkan ketelitian serta konsistensi.

Setiap ekor sapi membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk diperah. Setelah selesai, susu dikumpulkan sebelum diambil pengepul yang datang dua kali sehari.

Sekilas pekerjaan ini terlihat sederhana. Namun di balik segelas susu sapi murni yang sampai ke tangan konsumen, ada rangkaian pekerjaan yang harus dilakukan tanpa jeda.

Jadwal pemerahan tidak bisa ditunda begitu saja. Produksi susu harus tetap berjalan, dan kondisi sapi juga harus terus dijaga.

Mencari Rumput hingga ke Garut

Setelah proses pemerahan selesai, pekerjaan Acep belum berakhir.

Ia masih harus mencari pakan untuk kebutuhan puluhan sapi yang ada di kandang. Dalam sehari, sekitar 35 ikat rumput dibutuhkan agar kebutuhan ternak tetap terpenuhi.

Rumput tersebut tidak selalu tersedia di sekitar desa. Karena itu, Acep kerap pergi hingga ke Soreang, Sumedang, bahkan Garut menggunakan mobil bak.

Biasanya ia baru kembali sekitar pukul dua siang sebelum bersiap menjalani pemerahan sore.

Perjalanan mencari rumput itu mungkin tidak terlihat oleh orang-orang yang menikmati segelas susu setiap pagi. Namun bagi Acep, hal tersebut sudah menja

Ketika Kondisi Sapi Memengaruhi Produksi Susu

Menurut Acep, produksi susu tidak hanya dipengaruhi oleh pakan.

Kondisi sapi juga memiliki peran yang tidak kalah penting.

“Kalau stres, susunya nggak keluar.”

Kalimat itu disampaikan Acep dengan sederhana. Namun di peternakan sapi perah Cibiru Wetan, kondisi tersebut benar-benar diperhatikan.

Sapi-sapi di kandang terbiasa dengan lingkungan dan orang-orang yang merawatnya setiap hari. Suara yang terlalu gaduh, keramaian yang tidak biasa, bahkan kehadiran orang asing dapat membuat sapi menjadi lebih gelisah.

Menariknya, sapi yang tidak diperah sesuai jadwal juga bisa mengalami ketidaknyamanan.

Karena itu, jadwal pemerahan menjadi bagian penting yang tidak bisa dilewatkan.

Bahkan di jam empat subuh yang masih gelap, sapi-sapi itu tampak tenang ketika Acep datang. Mereka sudah terbiasa dengan sosok yang setiap hari memberi makan, memerah susu, dan menjaga kandang tempat mereka hidup.

Teknologi di Balik Peternakan Sapi Perah Modern

Di balik aktivitas yang terlihat tradisional, peternakan sapi perah Bandung ini juga memanfaatkan teknologi untuk mendukung pengelolaan ternak.

Sapi-sapi di kandang dibuahi melalui inseminasi buatan untuk menghasilkan keturunan dengan kualitas produksi susu yang lebih baik.

Selain itu, setiap sapi memiliki ear tag yang terhubung dengan sistem digital untuk mencatat riwayat kesehatan dan produktivitasnya.

“Kalau nggak ada di komputer, berarti sudah nggak ada,” kata Acep sambil menunjukkan sistem pendataan yang digunakan.

Melalui sistem tersebut, kondisi setiap sapi dapat dipantau secara lebih teratur.

Rumput Gajah, Ampas Tahu, dan Susu Sapi Murni

Selain kondisi psikologis, pakan juga menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas susu.

Di peternakan sapi perah Cibiru Wetan, rumput gajah menjadi pakan utama karena dinilai efektif mendukung produksi susu. Sebagai tambahan, sapi juga diberikan ampas tahu sebagai sumber protein.

Kombinasi tersebut digunakan secara konsisten untuk menjaga kualitas susu sapi murni yang dihasilkan setiap hari.

Selain itu, kualitas susu juga diperiksa secara rutin. Setiap bulan, sampel susu dikirim ke laboratorium menggunakan standar Point of Evaluation Test (PET).

“Alhamdulillah, setiap bulan hasilnya bagus,” ujar Acep.

Susu Sapi dari Peternakan Sapi Perah Cibiru Wetan

Cerita di Balik Setiap Tetes Susu

Rata-rata satu ekor sapi menghasilkan sekitar 15 liter susu per hari. Pada sapi dengan produktivitas tinggi, jumlahnya bahkan bisa mencapai 30 liter.

Dengan sekitar 50 ekor sapi yang diperah dua kali sehari, total produksi susu dari peternakan sapi perah Cibiru Wetan dapat mencapai sekitar 500 liter setiap hari.

Setelah diperah, susu dikumpulkan ke dalam milk can sebelum diambil pengepul. Sebagian besar disalurkan ke koperasi dan industri pengolahan susu di kawasan Lembang. Sebagian lainnya dijual langsung kepada pembeli yang datang ke kandang.

Angka 500 liter mungkin terdengar besar. Namun bagi Acep, jumlah tersebut lahir dari rutinitas yang dimulai sejak pukul empat pagi, perjalanan mencari pakan hingga keluar kabupaten, dan pekerjaan yang terus berulang setiap hari.

Melihat Langsung Proses Perah Susu Sapi

Bagi pengunjung yang datang ke Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan, peternakan ini dapat menjadi salah satu tempat untuk melihat langsung proses perah susu sapi dari dekat.

Pengunjung bisa mengamati aktivitas peternak, mengenal cara pemeliharaan sapi perah, hingga membeli susu sapi segar langsung dari sumbernya.

Kegiatan ini akan memberikan pengalaman baru sekaligus mengajarkan ada proses panjang yang harus dilalui untuk segelas susu sampai di mejamu saat pagi hari.

Leave a Reply