Bukan Sekadar Sanggar Tari di Cibiru Wetan, Tempat Ini Melahirkan Gaya Baru!

Suasaba latihan di Sanggar Tari Dapur Pangbarep salah satu sanggar tari di Cibiru Wetan

Di antara hiruk pikuk di Desa Cibiru Wetan, sebuah ruang kreatif terus hidup dan berkembang. Malam belum larut, tetapi suara musik sudah mengalun dari sebuah aula desa. Di sanalah salah satu sanggar tari di Cibiru Wetan menjadi tempat lahirnya sebuah karya yang hingga kini masih dalam proses pencarian jati diri.

Puluhan gadis bergerak dalam irama yang sama. Pinggul, dada, dan tangan mereka menyatu dalam gerak yang terus diulang. Mereka tidak sekadar berlatih, tetapi sedang menjalani proses panjang dalam belajar seni tari, sebuah proses yang perlahan membentuk tubuh, ritme, dan rasa.

Mereka sedang mempelajari Barepan, sebuah tarian yang hingga kini masih menyisakan pertanyaan: apakah ia bagian dari Jaipongan, atau justru berdiri sebagai sesuatu yang benar-benar baru?

Sesekali, karya yang lahir dari ruang ini tampil dalam berbagai pertunjukan tari tradisional. Ia memikat siapa pun yang menyaksikannya melalui kelincahan dan ekspresi geraknya. Namun, di balik penampilan itu, ada sebuah perjalanan yang belum selesai.

Sanggar Tari di Cibiru Wetan yang Mengembangkan Barepan

Semua ini bermula dari Sanggar Tari Dapur Pangbarep, sebuah sanggar tari di Cibiru Wetan yang berdiri sejak 2016. Dari sinilah proses kreatif itu tumbuh dan berkembang, menjadikannya salah satu tempat belajar tari di Bandung Timur yang cukup aktif hingga saat ini. Idha Jipo, sosok di balik sanggar tari dapur pang barep

Di balik sanggar ini, ada sosok Idha Rosmiati atau yang dikenal sebagai Idha Jipo. Ia dikenal sebagai Sejak kecil, ia telah akrab dengan dunia tari, hingga akhirnya memutuskan untuk membangun ruang belajarnya sendiri.

“Aku dari kecil nari. SMP ambil jurusan tari, kuliah juga tari. Jadi setelah lulus, kepikiran buat punya sanggar sendiri.”

Seiring waktu, sanggar ini berkembang. Cabang-cabang mulai hadir di beberapa wilayah seperti Garut, Karawang, dan Bandung. Meski demikian, Cibiru Wetan tetap menjadi pusat dari seluruh aktivitas dan proses kreatif yang berlangsung.

Menariknya, sistem belajar di sanggar ini tidak hanya berfokus pada latihan. Para murid juga diberi ruang untuk berkembang menjadi pengajar, menciptakan proses regenerasi yang terus berjalan.

“Awalnya bukan direncanakan ada asisten. Tapi karena ada murid yang kurang mampu, akhirnya dia bantu ngajar. Dari situ malah berkembang, sekarang jadi banyak coach.”

Dari sinilah sanggar ini tidak hanya menjadi tempat latihan, tetapi juga ruang tumbuh bagi generasi muda dalam memahami seni tari dan pelestarian budaya.

Sebuah Karya yang Masih Mencari Bentuk

Dari ruang sanggar inilah, lahir sebuah karya tari yang berkembang dari inspirasi Jaipongan, namun memiliki ciri khas tersendiri. Di sanggar tari ini, proses kreatif tersebut terus dirawat dan dikembangkan dari waktu ke waktu.

Karya itu bernama Barepan. Tarian ini berangkat dari eksplorasi gerak Jaipongan, tetapi menonjolkan ekspresi tubuh yang lebih bebas, terutama pada bagian pinggul dan dada. Musik dan koreografinya pun dikembangkan sendiri, menjadikannya sebuah karya yang lahir dari proses panjang latihan dan pencarian bentuk.

Untuk dapat menguasainya, para murid tidak langsung mempelajari gerakan utama. Mereka harus melalui tahapan pembelajaran seperti Guligah, Nguliat, Leungiteun, hingga Raosen. Setiap tahap menjadi bagian penting dalam membangun dasar sebelum masuk ke tingkat berikutnya.

Namun, seiring mulai dikenalnya dalam berbagai pertunjukan, karya ini justru dihadapkan pada perdebatan yang tidak sederhana.

“Saya masih dilema, apakah Barepan ini terpisah dari Jaipongan atau masuk dalam variannya. Masih dalam proses.”

Di satu sisi, ada yang menganggapnya sebagai bagian dari Jaipongan. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang menilai bahwa karya ini telah berkembang menjadi bentuk baru dalam dunia karya seni tari.

Sejak saat itu, pembahasan tentang Barepan tidak lagi hanya soal gerak, tetapi juga tentang posisi dan identitasnya dalam dunia seni tari.

Minat Perempuan Muda dalam Ruang Belajar Tari

Meski malam semakin larut, antusias generasi muda—terutama para perempuan—tidak surut untuk datang dan berlatih di sanggar tari ini. Dari usia anak-anak hingga remaja, mereka hadir dengan semangat yang sama: ingin mencoba dan belajar.

Latihan biasanya berlangsung pada Selasa hingga Kamis di malam hari. Sementara pada bulan Ramadan, jadwal dipindahkan ke sore hari agar tetap bisa diikuti oleh para murid. Rutinitas ini menjadi bagian penting dalam proses latihan seni tari secara konsisten.

Sebagian datang karena ketertarikan sejak awal, sementara yang lain memulai dari nol. Namun, semua menjalani proses yang sama: latihan, evaluasi, dan perkembangan bertahap.

Di sanggar tari Dapur Pangbarep, kegiatan belajar tari berlangsung sekitar 32 kali pertemuan sebelum masuk ke tahap evaluasi. Sistem ini dirancang agar setiap murid tidak hanya menghafal gerakan, tetapi benar-benar memahami tubuh dan ekspresinya sendiri.

Para pelatih yang mendampingi pun bukan orang luar, melainkan murid-murid terdahulu yang tumbuh di tempat yang sama. Mereka memahami proses dari awal, sehingga mampu membimbing generasi berikutnya dengan lebih dekat.

Di tengah proses tersebut, sanggar ini tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk berkembang dan menemukan ketertarikan mereka terhadap dunia seni sekaligus melestarikan budaya mereka.

Potensi Wisata Edukasi Budaya di Cibiru Wetan

Lebih dari sekadar tempat latihan, sanggar tari ini juga mulai membuka ruang sebagai bagian dari wisata edukasi budaya di Cibiru Wetan.

Pengunjung tidak hanya dapat menyaksikan pertunjukan, tetapi juga berkesempatan untuk ikut belajar melalui paket wisata yang telah disediakan. Pengalaman ini menjadikan kegiatan di sanggar sebagai bagian dari wisata budaya di Bandung Timur yang bersifat interaktif.

Di tengah berkembangnya desa sebagai kawasan wisata, keberadaan sanggar ini menjadi salah satu potensi yang terus tumbuh. Tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga membuka ruang baru bagi masyarakat untuk mengenal seni secara lebih dekat.

Menunggu Waktu Menemukan Namanya

Di tengah berbagai perdebatan dan proses yang masih berjalan, satu hal tetap pasti: karya ini tidak berhenti. Ia terus hidup di ruang latihan, dalam musik yang dimainkan, dan dalam gerak para penarinya.

Di titik itulah, Idha menemukan sesuatu yang lebih penting dari sebuah label. Bahwa sebuah karya tidak harus tergesa-gesa menemukan namanya, karena identitas tidak lahir dari satu keputusan, melainkan dari proses panjang yang melibatkan waktu, pengalaman, dan banyak sudut pandang.

“Kalau misalkan diterima sebagai varian Jaipongan, dengan senang hati. Karena memang saya lahir dari situ.”

Dari sebuah sanggar tari di Cibiru Wetan, sebuah karya terus tumbuh pelan, namun pasti. Ia mungkin belum selesai, tetapi justru di situlah letak kekuatannya sebuah proses yang terus bergerak, menuju bentuk yang suatu hari nanti akan menemukan namanya sendiri.

Leave a Reply