Pengrajin Anyaman Bambu Bandung yang Memilih Bertahan
Dulu, besek bambu ada di setiap hajatan. Tempat nasi dibungkus tangan, beraroma khas bambu, dibawa pulang dengan hangat. Sekarang? Diganti styrofoam. Diganti plastik. Lebih murah, lebih cepat, dan tidak membutuhkan sumber daya manusia yang besar untuk proses produksinya.
Di situlah masalahnya.
Ketika besek bambu tidak lagi dicari, pengrajin anyaman bambu ikut kehilangan tempat. Produk yang dulu menjadi kebutuhan sehari-hari, kukusan bambu untuk menanak nasi, nyiru untuk menampi beras, aseupan untuk keperluan dapur,perlahan dianggap kuno. Tidak praktis. Ketinggalan zaman dan harganya tidak ramah dikantong.
Namun di Cibiru Wetan, Bandung, masih ada pengrajin anyaman bambu yang belum berhenti
Abah Ncun: Lima Puluh Tahun Lebih Menganyam Bambu
Namanya Ncun. Warga sekitar memanggilnya Abah Ncun.
Usianya sudah 65 tahun. Paginya selalu dimulai dengan mencari rumput untuk kambing. Bukan pengrajin penuh waktu—ia juga peternak, juga tukang reparasi anyaman bagi warga yang peralatannya rusak. Hidupnya dekat tanah, dekat bambu, dekat pekerjaan tangan.
Ia mulai belajar menganyam saat kelas 4 SD. Gurunya membawa bambu dan pisau langsung ke kelas.
“Mulai belajar waktu SD kelas 4. Dari dulu sampai sekarang masih jalan.”
Lebih dari lima puluh tahun. Keterampilan itu tidak pernah ia tinggalkan. Bukan karena tidak ada pilihan lain, tapi karena bagi Abah, menganyam adalah cara menjaga sesuatu yang terasa penting untuk tidak hilang begitu saja.
Dari Besek Bambu sampai Kukusan: Produk yang Dibuat dengan Tangan
Di rumah sederhananya, Abah Ncun masih membuat berbagai produk anyaman bambu secara manual. Bukan dengan mesin atau cetakan pabrik, melainkan dengan tangan yang sudah terbiasa bekerja puluhan tahun. Dari bilah-bilah bambu sederhana, lahir benda-benda yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Beberapa produk yang biasa dibuat Abah antara lain besek bambu untuk wadah makanan, kemasan hajatan, atau hantaran. Ada juga kukusan bambu atau aseupan yang masih digunakan untuk menanak nasi di banyak dapur tradisional Sunda. Selain itu, Abah membuat nyiru, tampah bundar untuk menampi beras atau menjemur bahan makanan, hingga kipas anyaman bambu yang bentuknya sederhana dan sering dipakai untuk membantu proses memasak.
Jika ada anyaman lama milik warga yang rusak, Abah juga kerap diminta memperbaikinya karena itu, ia bukan hanya pengrajin, tetapi juga tempat bergantung bagi warga yang masih menggunakan peralatan bambu.
Satu hal penting : Bahan Baku
Semua pekerjaan itu dimulai dari bahan baku yang dipilih dengan teliti. Menurut Abah, tidak semua jenis bambu cocok untuk dianyam.
“Yang bagus namanya awi tali.”
Setelah bambu didapat, proses berikutnya adalah membelahnya menjadi bilah tipis-tipis. Bilah itu kemudian diraut hingga halus agar nyaman dipegang dan tidak berbulu. Jika belum sempat diraut sempurna, bagian halusnya bisa dirapikan dengan cara dibakar ringan.
Setelah itu, bambu dikeringkan sampai memiliki kelenturan yang pas. Jika terlalu basah, bambu mudah rusak. Jika terlalu kering, bambu bisa patah saat dibentuk. Karena itu, setiap tahap membutuhkan rasa dan kebiasaan yang hanya dipahami oleh tangan yang sudah lama bekerja. Tidak bisa terburu-buru, tidak bisa disingkat.
Baru setelah semua siap, bambu mulai dianyam. Bilah demi bilah disusun silang dengan pola yang sudah tertanam dalam ingatan Abah sejak puluhan tahun lalu. Gerakannya tenang, berulang, dan tampak natural seolah tangan itu sudah hafal jalannya sendiri.
Untuk produk sederhana seperti kipas, Abah bisa menyelesaikannya dalam waktu sekitar satu jam jika bahan sudah siap untuk dianyam. Untuk besek bambu, kukusan bambu, atau produk anyaman bambu lain yang lebih rumit, waktu yang dibutuhkan tentu lebih lama. Ada lebih banyak detail yang harus diperhatikan, lebih banyak bagian yang perlu dirapikan, dan lebih banyak kesabaran yang harus dikeluarkan.
Seribu Pesanan, tetapi Hanya Punya Dua Tangan
Ada sebuah kisah menarik selama berkecimpung di industri ini. Suatu waktu, datang pesanan besar: seribu besek bambu sekaligus. Alih-alih menerima tawaran ini, Abah justru menolaknya
“Abah pusing. Gak jadi.”
Bukan karena tidak ingin menerima rezeki. Permintaan produk anyaman bambu sebenarnya masih ada, tetapi Abah mengerjakannya seorang diri. Di usia yang tak lagi muda, pesanan dalam jumlah besar tentu tidak mudah diselesaikan.
Kini, pengrajin seperti Abah semakin jarang ditemui. Padahal, menurutnya, kerajinan bambu bukan sekadar barang pakai.
“Kalau kita memakai dari bahan-bahan bambu, berarti masyarakat punya pencaharian.”
Tamu yang Datang Belajar, Bukan Sekadar Membeli
Harapan datang dari arah yang tidak disangka.
Bukan dari pasar besar. Bukan juga dari para distributor. Namun, dari para tamu yang datang ke Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan membawa rasa ingin tahu. Dari mahasiswa, komunitas, hingga wisatawan ingin tahu bagaimana proses mengubah sebilah bambu menjadi sebuah anyaman.
Untuk mengatasi rasa ingin tahu, abah sangat terbuka mengajari para tamu yang ingin mencoba membuat produk anyaman bambu. Biasanya, Abah Ncun mengajari mereka membuat kipas bambu atau dalam bahasa sundanya hihid.
Mereka duduk di sebelah Abah. Melihat bagaimana Abah menganyam Mencoba. Gagal. Mencoba lagi. Dari eskpresi mereka, menunjukkan seakan-akan ini adalah hal sulit, tapi tidak boleh menyerah di tengah jalan. Sering kali jika mereka sudah mulai kesulitan, Abah senantiasa akan membantu mereka
“Ngajarinya harus sabar. Waktu belajar di sekolah juga tidak sehari bisa.”
Pengrajin Anyaman Bambu yang Memilih Tidak Berhenti
Abah Ncun tidak pernah menyebut dirinya sebagai seorang penjaga tradisi. Ia hanya melakukan apa yang masih bisa ia lakukan. Jika ada yang rusak, ia akan membantu memperbaiki. Atau juga ketika ada yang ingin belajar menganyam, dengan senang hati Abah akan membimbing sama seperti cara ia belajar dulu
Dari tangan itulah kerajinan anyaman bambu di sudut Bandung ini masih bisa ditemukan. Bukan di sebuah pabrik besar, tapi di teras rumah seorang kakek yang pagi-paginya mencari rumput, lalu duduk menganyam jika ada permintaan
Kalau kamu ingin melihat dan belajar bagaimana besek bambu, kukusan bambu, dan produk anyaman bambu lainnya dibuat dari nol, Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan adalah tempatnya. Datang, belajar, dan bawa pulang pengalaman belajar yang tidak terlupaka.
