Prosesi Ruwatan Gunung Manglayang

Ruwatan Ageung Manglayang: Ketika Tradisi yang Terlupakan Kembali Berdenyut

Selama 13 tahun, kaki Gunung Manglayang kehilangan satu suaranya.

Tidak ada lagi arak-arakan warga menuju Situs Batu Kuda. Dentuman dog-dog yang dahulu menggema di antara pepohonan pinus perlahan menghilang. Doa-doa para sepuh yang biasanya dipanjatkan di kaki gunung pun tak lagi terdengar.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah ritual yang berhenti digelar. Namun bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan Gunung Manglayang, hilangnya Ruwatan Ageung Manglayang berarti putusnya satu cara lama dalam menjaga hubungan manusia dengan alam

Di tengah kehidupan modern yang terus bergerak cepat, tradisi itu sempat nyaris terlupakan.

Hingga akhirnya pada tahun 2019, para pemangku adat dan masyarakat memutuskan satu hal penting: warisan leluhur ini tidak boleh hilang begitu saja.

Apa Itu Ruwatan Ageung Gunung Manglayang?

Ruwatan Ageung merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Sunda yang dilaksanakan di kawasan Gunung Manglayang, tepatnya di sekitar Situs Batu Kuda, Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung.

Bagi masyarakat setempat, ruwatan bukan sekadar ritual budaya. Tradisi ini merupakan bentuk ngerawat—merawat keseimbangan antara manusia, alam, dan kehidupan spiritual.

Gunung Manglayang dipandang sebagai sumber kehidupan. Dari kawasan inilah mata air mengalir, hutan tetap terjaga, dan kehidupan masyarakat di sekitarnya bergantung. Karena itu, menjaga alam tidak hanya dipahami sebagai tindakan ekologis, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.

Pandangan inilah yang membuat Ruwatan Ageung tetap bertahan sebagai bagian penting dari kearifan lokal  yang masih eksis di Jawa Barat.

Tradisi Sunda di Bandung Timu yang Sempat Hilang Selama 13 Tahun

Tradisi Ruwatan Ageung diyakini telah diwariskan secara turun-temurun sejak dahulu kala. Namun seperti banyak tradisi lisan lainnya, sejarahnya lebih banyak hidup melalui cerita para sepuh dibanding catatan tertulis.

Seiring waktu berlalu, perkembangan zaman dan perubahan sosial perlahan membuat tradisi ini mulai jarang dilaksanakan. Antara tahun 2005 hingga 2018, Ruwatan Ageung benar-benar terhenti.

Selama lebih dari satu dekade, tidak ada lagi prosesi adat yang digelar di sekitar kawasan Gunung Manglayang.

Generasi muda mulai tumbuh tanpa mengenal tradisi ini secara langsung. Hubungan masyarakat dengan nilai-nilai lama perlahan memudar. Di saat yang sama, kehidupan modern membuat banyak orang semakin jauh dari alam yang selama ini menopang kehidupan mereka.

Kondisi inilah yang kemudian mendorong para pemangku adat dan masyarakat untuk kembali menghidupkan Ruwatan Ageung pada tahun 2019.

Kebangkitan tradisi ini menjadi lebih dari sekadar pelestarian budaya. Ruwatan Ageung berubah menjadi pengingat bahwa manusia tidak hidup sendirian. Alam bukan objek yang bisa terus dieksploitasi, melainkan bagian dari keseimbangan hidup yang harus dijaga bersama.

Lokasi dan Waktu Pelaksanaan

Ruwatan Ageung Gunung Manglayang dilaksanakan setiap satu tahun sekali di kawasan kaki Gunung Manglayang, tepatnya di sekitar Situs Batu Kuda yang dianggap sebagai area sakral. Gunung Manglayang dipandang sebagai sumber air dan penyangga kehidupan bagi masyarakat Desa Cibiru Wetan dan wilayah sekitarnya.

Penentuan waktu pelaksanaan tidak mengacu pada penanggalan masehi, melainkan pada penanggalan tradisional Sunda, sebuah keputusan yang sepenuhnya dipercayakan kepada juru kunci yang akrab disapa Bah Undang.

Meski tradisi ini dilaksanakan setahun sekali, kamu tidak perlu berkecil hati. Kamu dapat menyaksikan Mitimbeyan Ruwatan Gunung Manglayang yang jadwalnya dapat kamu lihat di Instagram Desa Wisata Cibiru Wetan

Sosok di Balik Tradisi: Bah Undang

Di balik kelangsungan Ruwatan Ageung, ada sosok yang menjadi penjaga waktu sekaligus penjaga nilai Bah Undang, sang juru kunci. Ia yang menentukan kapan bumi siap menerima doa, kapan langit tepat untuk disapa. Kehadirannya bukan sekadar seremonial; ia adalah jembatan antara generasi masa kini dan kearifan para leluhur yang telah lama tertidur.

Prosesi Ruwatan Ageung Manglayang

Prosesi Ruwatan Ageung Gunung Manglayang diawali dengan kemeriahan arak-arakan warga menuju kawasan Batu Kuda. Langkah kaki masyarakat bergerak seirama dengan dentuman musik tradisional, mulai dari seni dog-dog, reak benjang, hingga atraksi sisingaan yang memukau. Dalam iring-iringan ini, warga membawa berbagai persembahan berupa hasil alam dan lauk-pauk sebagai simbol rasa syukur atas berkah yang melimpah.

Setibanya di kawasan Wana Wisata Batu Kuda, suasana terbagi menjadi dua. Sebagian masyarakat tetap berada di lokasi utama untuk menjaga kebersamaan, sementara pemangku adat beserta perwakilan warga melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih tinggi. Mereka mendaki menuju Situs Batu Kuda, sebuah lokasi sakral yang menjadi pusat inti dari pelaksanaan ritual ini.

Di balik rimbunnya pepohonan, lanTunan doa dipanjatkan dan pupuh penuh nasihat kehidupan turut didedangkan. Alunan kecapi yang syahdu menambah kesakralan saat pemangku adat membuka komunikasi dengan alam semesta.

Upacara pun mencapai puncaknya saat para tetua menghaturkan sesajen dan hasil bumi di situs tersebut. Sekembalinya mereka ke lapangan utama, para sesepuh desa berdiri di depan panggung sembari membacakan doa yang disebut sebagai pitutur sepuh

Keheningan semakin dalam saat warga mulai duduk melingkar, menciptakan sebuah lingkaran persaudaraan dengan deretan sesajen dan hasil bumi sebagai pusatnya. Di bawah terim matahari, para warga  mulai memanjatkan doa bersama. Suasana terasa begitu sakral, sebuah permohonan tulus untuk keselamatan dan perlindungan bagi seluruh warga yang hidup berdampingan dengan alam.

Sebagai penutup yang manis, suasana khidmat tersebut mencair dalam momen ramah tamah. Masyarakat dan pengunjung pun menikmati hasil bumi bersama-sama dalam tradisi makan bersama yang hangat. Keceriaan semakin lengkap dengan iringan gerak gemulai tarian lokal, seperti Tari Barepan. 

Filosofi dan Keunikan dari Kearifan Lokal Jawa Barat

Secara filosofis, Ruwatan Ageung Gunung Manglayang bertujuan menjaga keseimbangan antara jagat alit (manusia) dan jagat ageung (alam semesta) atas ridho Sang Pencipta. Masyarakat meyakini bahwa apabila alam dijaga dengan baik, kehidupan manusia pun akan terhindar dari berbagai bentuk marabahaya.

Keunikan ritual ini terletak pada konsep Mandala sebuah pandangan yang menggap bahwa gunung adalah pusat kehidupan yang harus dihormati dan dilindungi. Ruwatan, dengan demikian bukan hanya sekadar ritual spiritual. Ia adalah pesan moral bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian darinya.

Perkembangan dan Pelestarian Ruwatan Ageung Manglayang

Sejak kembali dilaksanakan pada tahun 2019, Ruwatan Ageung Gunung Manglayang mengalami perkembangan yang pesat. Tradisi ini mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan pengelola kawasan. Dukungan serta kolaborasi dengan berbagai lembaga membuat penyelenggaraan ruwatan menjadi lebih tertata.

Saat ini, masyarakat umum dapat menyaksikan dan mengikuti rangkaian kegiatan tertentu sebagai bagian dari upaya pelestarian kearifan lokal Jawa Barat sekaligus dapat menjadi

Pengingat untuk Menjaga Hubungan dengan Alam

Ruwatan Ageung Gunung Manglayang adalah bukti bahwa tradisi yang hampir terlupakan pun dapat kembali hidup ketika masih ada masyarakat yang peduli menjaganya. Di tengah dunia modern yang terus bergerak cepat, tradisi ini hadir sebagai pengingat bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang bisa dimanfaatkan, melainkan bagian dari keseimbangan hidup yang harus dijaga bersama.

Kini, di kaki Gunung Manglayang, doa-doa itu kini kembali dipanjatkan. Tradisi lama yang sempat menghilang perlahan kembali hidup, membawa pesan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak pernah benar-benar boleh terputus.

Selama nilai-nilai itu masih diwariskan dan dijaga bersama, Ruwatan Ageung bukan hanya akan dikenang sebagai warisan budaya Sunda, tetapi juga sebagai cara masyarakat merawat kehidupan itu sendiri.

Leave a Reply