Lebih dari Sekadar Kebun, Inilah Kisah Kelompok Wanita Tani Rancage dalam Menjaga Pangan Desa
Di tengah padatnya pemukiman warga Desa Cibiru Wetan, terdapat oase hijau yang kini menjadi salah satu pilihan wisata edukasi pertanian di Bandung. Kelompok Wanita Tani (KWT) Rancage bukan sekadar kebun, melainkan ruang belajar bagi siapa saja yang ingin mengenal kemandirian pangan lebih dekat.
Di tengah semakin terbatasnya lahan hijau, keberadaan KWT Rancage menunjukkan bahwa pertanian modern tetap bisa tumbuh dari ruang kecil di tengah padatnya lingkungan permukiman.
Sejak pukul 07.00 pagi, para ibu ini sudah asyik menyiram tanaman dan menggemburkan tanah sembari bercengkerama satu sama lain. Mengandalkan teknik pertanian lahan sempit di tengah permukiman padat, mereka membuktikan bahwa keterbatasan ruang bukan penghalang untuk produktif. Hasilnya pun tak main-main, mereka mampu menghasilkan puluhan kilogram sayuran organik dalam sekali panen.
Mengintip Serunya Wisata Edukasi Pertanian di Bandung Lewat KWT Rancage
Kelompok Wanita Tani Rancage merupakan satu dari lima KWT di Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan. Berdiri sejak 2017 atas inisiatif pemerintah desa dan pemanfaatan lahan kosong, kelompok ini kini beranggotakan 12 perempuan. Beberapa dari mereka merupakan pekerja, tetapi sebagian merupakan ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki kegiatan produktif di luar rumah.
Sebelum KWT ini berdiri, lahan kosong di tengah permukiman hanya dibiarkan begitu saja. Tidak ada yang dari sana memunculkan semangat kemandirian pangan yang menggerakkan banyak orang.
Dari lahan sederhana itu, warga mulai melihat bahwa pertanian lahan sempit juga bisa menjadi ruang belajar sekaligus peluang ekonomi baru bagi masyarakat khususnya bagi mereka yang tinggal di dekat lahan tersebut.
Kini, di lahan terbatas tersebut mereka menanam kangkung, pokcoy, seledri, bawang daun, hingga cabai menggunakan polybag. Tidak hanya itu, kebun kecil ini memiliki green house yang didalamnya terdapat puluhan pipa yang merupakan instalasi hidroponik.
Dalam sekali panen, kebun ini dapat menghasilkan kilogram sayuran dan hasilnya dipasarkan dipasarkan melalui WhatsApp kepada warga sekitar dan hampir selalu habis terjual. Satu hal yang cukup unik dari tempat ini adalah anggota yang ingin membawa pulang sayuran tetap harus ” berebut” dengan pelanggan lainnya.
Tidak sedikit pengunjung yang datang untuk melihat langsung bagaimana sistem hidroponik dan pemanfaatan lahan sempit diterapkan oleh warga sehari-hari. Hal inilah yang membuat KWT Rancage perlahan berkembang sebagai bagian dari wisata edukasi pertanian di Bandung.
Di antara 12 anggota KWT Rancage, ada sosok Cacih seorang ibu rumah tangga yang sudah aktif bergabung sejak awal. Cacih tidak sendiri dalam merawat kebun kecilnya, ia dibantu oleh anggota lainnya seperti Imas dan Emih. Bagi mereka, bergabung dengan KWT bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan cara untuk membuktikan bahwa ibu rumah tangga yang produktif bisa memberikan dampak nyata bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Titik Balik: Keripik Pisang dan Semangat Berani Mencoba

Tahun 2023 menjadi titik balik ketika para ibu tangguh ini mulai mencoba usaha di luar pertanian.
Tepatnya pada 6 Juni 2023, salah satu anggota datang dengan membawa sebungkus keripik pisang. Dari obrolan sederhana, muncul ide untuk mencoba memproduksi sendiri.
“Namanya juga bisnis, nggak langsung untung. Awalnya cuma dapat sedikit, sekitar enam puluh ribu rupiah. Tapi kita coba terus,” ujar Cacih.
Dari percobaan kecil itu, lahirlah produk keripik pisang yang kini berkembang menjadi salah satu produk UMKM kuliner kebanggan Desa Cibiru Wetan
Dalam satu kali produksi, mereka mampu mengolah 65 hingga 75 kilogram pisang mentah selama dua hingga tiga hari. Keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp300.000 hingga Rp500.000 per produksi, tergantung kualitas bahan baku.
Keripik pisang kini menjadi salah satu produk lokal Cibiru Wetan yang paling menguntungkan bagi kelompok tani ini. Jika hasil sayuran kadang tidak menentu, keripik membantu menutup biaya operasional dan memperkuat arus kas milik mereka.
Tantangan di Balik Panen
Perjalanan KWT Rancage tidak selalu mulus yang orang lain kira. Sebagai KWT yang menanam sayuran organik, serangan hama bisa datang kapan saja tanpa permisi dan ketika itu terjadi, hasil panen yang sudah ditunggu-tunggu bisa tak bernilai sama sekali.
“Kalau sayuran itu nggak tentu. Kadang bagus, kadang jelek. Kalau kena hama, ya kita rugi karena nggak bisa dijual,” ungkap Cacih.
Sistem hidroponik yang mereka gunakan juga membutuhkan modal yang tidak sedikit. Mulai dari listrik, bibit, hingga pupuk. Belum lagi kesibukan masing-masing anggota yang kadang membuat tidak semua orang bisa hadir merawat kebun setiap hari.
Namun setiap tantangan itu tidak pernah membuat mereka berhenti. Justru menjadi ruang belajar bersama yang mempererat hubungan antaranggota.
Dari proses itu, para anggota mulai menyadari bahwa keberhasilan bukan hanya tentang hasil panen, tetapi juga tentang bagaimana mereka tumbuh dan saling menguatkan bersama.
Tonton keseruan aktivitas KWT Rancage di Instagram Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan.
Lebih dari Sekadar Bertani

Bagi para anggota, KWT Rancage bukan sekadar tempat bertani, tetapi juga ruang untuk bertumbuh, belajar, dan mengais rezeki bersama. Meski banyak suka dan duka yang dialami, hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka.
“Yang paling senang itu kalau lagi bikin keripik, tiba-tiba ada chat masuk pesan banyak. Capeknya langsung hilang,” tutur Imas dan Emih sembari tersenyum.
Dan mungkin momen paling membanggakan bagi seluruh anggota KWT Rancage adalah saat mereka bisa mengajak seluruh anggota, bahkan warga non-anggota, untuk berlibur bersama. Sepenuhnya dari hasil jerih payah mereka sendiri. Dari kebun kecil di bekas lapangan futsal, mereka membiayai kebahagiaan bersama.
Begitulah makna sesungguhnya dari pemberdayaan perempuan desa ketika perempuan tidak hanya berdaya secara ekonomi, tetapi juga berdaya secara sosial dan emosional.

