Kisah Peternakan Jaya Ulung Bangun Ekosistem Berkelanjutan

Ustad Engkos Pemilik Peternakan Jaya Ulung

Pagi di Jaya Ulung tak pernah benar-benar sunyi. Walaupun jam baru menunjukkan angka tujuh, ayam dan bebek sudah saling bersahutan dari kandang sederhana di sudut peternakan. Aktivitas dimulai lebih cepat dari matahari.

Namun, di antara riuhnya suara ternak itu, ada makhluk yang bekerja dalam diam. Tak bersuara, nyaris tak terlihat jika tak diperhatikan dengan saksama. Hanya aroma khas yang menandakan kehadirannya.

Mereka adalah maggot, larva lalat dengan jenis black soldier fly (BSF). Di tangan yang tepat, makhluk kecil ini bukan sekadar pengurai limbah, melainkan penopang ekosistem peternakan maggot di Kabupaten Bandung yang berkelanjutan.

Dari Kandang Ayam ke Awal Peternakan Maggot di Kabupaten Bandung

Semua bermula pada 2016. Saat itu, pemilik Jaya Ulung, yang akrab dikenal warga sebagai Ustad Engkos hanyalah peternak ayam seperti kebanyakan lainnya. Setiap hari ia berkutat dengan kandang dan pakan, berharap hasil ternak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Namun satu masalah terus menghantui: harga pakan ternak yang semakin naik.

Penghasilan terasa stagnan, sementara biaya produksi terus membengkak. Ia menyadari, jika terus bergantung pada pakan komersial, usahanya tak akan pernah benar-benar berkembang.

Hingga suatu hari, ia mengenal budidaya maggot black soldier fly.

“Awalnya tahu maggot dari pertemuan dengan teman, saling kasih informasi. Dulu sempat saya umpetin karena kan maggot itu sejenis ulat, orang-orang pasti jijik. Tapi ternyata manfaatnya luar biasa”

tutur Ustad Engkos.

Obrolan sederhana itu menjadi titik balik. Ia mulai belajar secara otodidak mencari informasi. Namun, usahanya tidak berjalan dengan mudah. Mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Perlahan ia memahami bahwa maggot bukan sekadar larva.

Maggot adalah solusi.
Solusi untuk pakan ternaknya.
Solusi untuk mengurangi sampah organik.

 Dan solusi untuk masa depan usahanya.

“Ketika saya beralih pakan ternak ke maggot, saya bermimpi ke depannya akan sukses. Saya merasa ada harapan yang luar biasa,”

 

Pengolahan Sampah Organik dalam Peternakan Maggot di Kabupaten Bandung

Maggot Mengurai Sampah Organik

Dalam sistem ini, sampah tak lagi dipandang sebagai limbah menjijikkan. Ia menjadi sumber daya.

Secara sederhana, satu kilogram maggot mampu mengurai hingga 10 kilogram sampah organik. Di Peternakan Jaya Ulung, angka itu bukan sekadar teori.

Dalam sehari, koloni maggot di peternakan ini mampu menghabiskan dua tong sampah organik. Satu tong rata-rata berisi sekitar 70 kilogram. Artinya, lebih dari satu kuintal sampah diolah setiap hari.

Sisa sayur, buah busuk, hingga limbah dapur yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan kini menjadi pakan utama maggot.

Pasokan bahan organik bahkan tak pernah benar-benar habis.  Ustad Engkos mengaku pernah mendapat tawaran kerja sama pengelolaan sampah dari industri hotel hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ada pula pihak yang bersedia membayar agar sampah mereka dikelola.

Namun saat ini, ia memilih mengambil sampah dari warga sekitar tingkat RW. Selain lebih dekat, langkah itu menjadi bentuk kontribusi langsung terhadap lingkungan dan juga nilai ibadah bagi dirinya.

Dari sinilah peran peternakan maggot di Kabupaten Bandung mulai terasa bukan hanya sebagai usaha ternak, tetapi sebagai solusi pengolahan sampah organik skala lokal.

Siklus Budidaya Maggot Black Soldier Fly yang Berkelanjutan

Jenis Lalat Black Soldier Fly (BSF)

Di Jaya Ulung terdapat dua kandang lalat black soldier fly. Keputusan ini bukan tanpa alasan.

“Supaya siklusnya nggak putus. Kalau putus, nanti kita kelabakan sampahnya mau dikemanakan? Karena sampah itu kalau didiamkan sebentar saja sudah bau,”

ujar Ustad Engkos.

Dalam budidaya maggot, kesinambungan adalah kunci. Lalat betina bertelur setiap dua hari sekali. Telur menetas menjadi larva yang kemudian mengurai sampah organik selama kurang lebih 21 hari sebelum memasuki fase berikutnya.

Jika satu fase terganggu, produksi maggot ikut terhenti dan pengolahan sampah pun akan terdampak. 

Ustad Engkos turut menjelaskan mengapa menggunakan larva jenis lalat black soldier fly bukan larva dari jenis lalat lain seperti lalat hijau

“Kalau lalat hijau itu agresif, senangnya di bangkai. Kalau BSF beda. Dia sukanya tempat bersih. Di alam, dia cuma minum air embun atau air bersih” 

BSF dewasa tidak tertarik pada makanan manusia maupun bangkai. Justru pada fase larva, maggot hanya mengonsumsi bahan organik yang diberikan.

Kualitas maggot sangat bergantung pada jenis pakan yang diberikan. Jika ingin menghasilkan maggot dengan karakter tertentu, bahan organiknya bisa disesuaikan.

Artinya, kendali bukan pada lalatnya melainkan pada bagaimana manusia mengelola siklus dan pakannya.

Pemanfaatan Maggot sebagai Pakan Ternak

Tanpa aplikasi, maggot hanya sebagai pemilah sampah dan tidak bernilai ekonomi.

Di Jaya Ulung, larva hasil budidaya tidak dijual mentah begitu saja. Maggot dimanfaatkan sebagai pakan alternatif hewan-hewan yang ada, seperti ayam, bebek, dan lele.

Jika Ayam dapat langsung mengonsumsi maggot hidup, lele justru sebaliknya. Maggot diberikan dalam kondisi tidak bernyawa dengan komposisi pakan sebesar 

 Sementara untuk lele, maggot diberikan dalam kondisi tidak bernyawa dengan komposisi sekitar 75 persen maggot dan 25 persen pakan tambahan agar lebih mudah dikonsumsi.

Berkat sistem ini, lebih dari 300 ayam dan bebek mendapatkan suplai pakan yang lebih hemat dan bernutrisi.

Siklus pun menjadi tertutup:
Sampah → Maggot → Pakan Ternak → Telur & Ikan → Nilai Ekonomi

 

Dampak Ekonomi Peternakan Maggot di Kabupaten Bandung

Telur dari Peternakan Jayau Ulung Ayam Petelur di Peternakan Jaya Ulung

Berkat maggot, Ustad Engkos mampu menekan biaya pembelian pakan secara signifikan. Pengeluaran berkurang, sementara kualitas asupan ternak meningkat.

Dampaknya terlihat nyata pada produksi telur. Dalam sehari, ia mampu menghasilkan sekitar 8 kilogram telur yang dipasarkan ke Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dari kolamnya, lebih dari satu kuintal lele dapat dipanen dalam satu siklus.

Apa yang awalnya hanya alternatif untuk menghemat biaya, kini berkembang menjadi sistem usaha yang berkesinambungan.

Pemerintah Desa Cibiru Wetan turut memberikan dukungan pengembangan usaha berupa modal senilai puluhan juta yang dimanfaatkan oleh Ustad Engkos untuk membangun beberapa fasilitas di peternakan seperti kandang dan juga pakan ternak.

Dari situ terbentuk Kelompok Jaya Ulung sebagai wadah pembelajaran dan kolaborasi budidaya maggot di Kabupaten Bandung. Kemandirian yang awalnya dirintis sendiri kini mulai menular ke anggota kelompoknya.

Kini, Ustad Engkos dikenal sebagai salah satu narasumber budidaya maggot di Kabupaten Bandung. Banyak pihak datang untuk belajar bagaimana pengolahan sampah organik dapat diubah menjadi sistem peternakan yang mandiri dan bernilai ekonomi.

Namun, menurutnya, beternak maggot tidak bisa berdiri sendiri.

“Ketika kita mau terjun ke dunia maggot harus lengkap buat ekosistemnya. Banyak teman saya yang belajar maggot, ketika maggotnya sudah penuh malah bingung mau diapakan. Makanya saya selalu mengarahkan, minimal punya 20 ekor ayam atau bebek sebagai aplikasinya dan kandangnya harus tertutup,”

jelasnya.

Di situlah letak perbedaannya.

Yang dibangun bukan sekadar produksi larva, melainkan ekosistem. Maggot harus terhubung dengan ternak, ternak terhubung dengan pasar, dan sampah kembali ke siklus produksi.

Dari telur hingga pengurangan sampah di sanalah nilai sebenarnya tercipta. Sebuah sistem kecil di Kabupaten Bandung yang menunjukkan bahwa solusi ekonomi dan solusi lingkungan bisa berjalan beriringan.

Ingin melihat prosesnya secara nyata?
Kunjungi Instagram kami untuk mengikuti aktivitas dan perkembangan terbaru peternakan ini.

Untuk pengalaman belajar langsung, Anda juga dapat mengunjungi Peternakan Jaya Ulung di Desa Cibiru Wetan 

Leave a Reply