Kunjungan Telkom University ke Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan untuk belajar budaya sunda

Mahasiswa Asing Telkom University Belajar Budaya Sunda di Desa Wisata Cibiru Wetan

Belajar bahasa di ruang kelas saja sering kali belum cukup untuk benar-benar memahami sebuah negara. Bahasa tumbuh bersama kebiasaan, tradisi, dan cara hidup masyarakatnya. Karena itu, tujuh mahasiswa asing peserta Program BIPA Telkom University memilih cara yang berbeda. Mereka datang langsung ke Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, pada Selasa, 5 Mei 2026, untuk belajar budaya indonesia khususnya budaya Sunda dari masyarakatnya secara langsung.

Para mahasiswa yang berasal dari Jepang, Malawi, India, Kazakhstan, dan beberapa negara lainnya ini tidak sekadar berlatih berbicara bahasa Indonesia. Mereka merasakan sendiri bagaimana budaya Sunda hidup dalam keseharian.

Disambut Tari  Khas Cibiru Wetan dan Samping Sunda

Kegiatan dimulai sekittar pukul 09.00 WIB. Setiabanya rombongan, mereka langsung disambut pertunjukan Tari Ibing Manglayang, tarian penyambutan khas yang sudah lama menjadi cara Cibiru Wetan menyapa tamunya.

Setelah itu, perwakilan peserta dipasangkan samping Sunda, kain tradisional yang dikenakan sebagai bentuk penghormatan sekaligus tanda penerimaan. Bukan seremoni biasa  bagi sebagian peserta, ini pertama kalinya mereka mengenakan pakaian tradisional Indonesia. Rombongan kemudian diajak berjalan menuju Dome Awi, lokasi utama kegiatan di kawasan desa wisata.

Pelajaran pertama sudah dimulai, bahkan sebelum sesi resmi dibuka.

Kolaborasi yang Diharapkan Terus Berlanjut

Setibanya di lokasi, peserta mendapat sambutan hangat dari Kepala Desa Cibiru Wetan, Hadian Supriyatna, yang menyampaikan apresiasinya atas kunjungan mahasiswa internasional ke Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan.

Perwakilan Language Center Telkom University, Pebry, turut menyampaikan terima kasih kepada pihak desa yang telah menyambut mahasiswa kelas BIPA dengan tangan terbuka. Ia berharap kolaborasi ini tidak berhenti di sini — mengingat setiap tahun Telkom University selalu kedatangan mahasiswa internasional yang membutuhkan pengalaman belajar seperti ini.

Kunjungan langsung ke masyarakat, kata Pebry, membuat proses belajar bahasa Indonesia menjadi jauh lebih hidup. Mahasiswa tidak hanya duduk menghafal tata bahasa, tetapi berinteraksi langsung, mengenal nilai kehidupan, dan memahami cara berpikir masyarakat Sunda dari dalam.

Belajar Budaya Sunda Langsung dari Dapurnya

Sesi utama dimulai bukan dengan ceramah, tapi dengan tangan yang langsung kotor bekerja.

Peserta mencoba nyiksik béas, membersihkan beras dengan cara tradisional yang ternyata butuh kesabaran lebih dari yang dibayangkan. Setelah itu dilanjutkan dengan nyiuk lauk, menangkap ikan langsung dari kolam bioflok sebelum membersihkannya sendiri. Kemudian dilanjut dengan ngundeur, yaitu memetik hasil bumi seperti daun singkong dan daun pepaya untuk dijadikan lauk pelengkap.

Berlanjut ke ngakeul sangu yaitu proses membolak-balik nasi panas menggunakan hihid, kipas bambu, agar nasi tetap pulen dan tidak cepat basi. Menjelang makan siang, cobek sudah menunggu. Peserta diajak ngulek sambal sambil dikenalkan bahan-bahan lokal khas Sunda seperti leunca yang mungkin belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Layang-Layang, Anyaman Bambu, dan Angklung Bersama Lansia

Sembari menunggu  jam makan siang dan nasi matang, peserta diajak membuat layangan dari nol, sebilah bambu diikat benang, dilapisi kertas, lalu dihias sesuai selera masing-masing. Setelah selesai, mereka langsung menerbangkannya. Tawa tidak berhenti sepanjang sesi.

Setelah menikmati makan siang dan istirahat, peserta diajak untuk membuat kerajinan anyaman bambu. Mereka diajak untuk membuat hihid atau kipas bambu. Tidak mudah, dan memang terlihat begitu. Namun, para peserta tetap berusaha, satu per satu helai bambu disusun dengan hati-hati. Hihid yang sudah jadi dibawa pulang sebagai hadiah dari sesi ini.

Untuk mengakhiri perjalanan, mereka diajak ke kampung lansia untuk bermain angklung bersama. Di awal, suasana sempat terasa canggung — peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil, dan tidak semua langsung tahu harus berbuat apa. Meski begitu, ketika nada pertama mulai dimainkan, kecanggungan itu mencair sendiri.

Para nenek dan kakek menyambut dengan sabar — mengajarkan satu per satu, tidak terburu-buru.Pada monmen ini peserta dan para lansia saling menemukan cara untuk terhubung, lewat nada, lewat tawa, tanpa perlu banyak kata.

Diakhir hari, perjalanan ini meninggalkan kesan positif bagi setiap peserta, salah satunya adalah Phem, siswa BIPA Telkom University asal Malawi

“Sejak pagi hingga sore, semua aktivitas yang kami lakukan sangat bermanfaat dan edukatif. Saya banyak belajar tentang budaya Sunda. Yang paling menarik adalah menyanyi dan bermain angklung bersama nenek — itu sangat seru!”

Ketika Budaya Dirayakan Bersama

Sepanjang hari, yang terjadi bukan hanya mahasiswa asing yang belajar tentang Indonesia. Warga pun ikut mengenal cerita dan kebiasaan dari negara-negara yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya. Percakapan mengalir lewat bahasa yang sederhana, isyarat, dan tawa — dan ternyata itu sudah lebih dari cukup.

Cibiru Wetan, Lebih dari Sekadar Destinasi Wisata Bandung

Kunjungan ini menegaskan bahwa Desa Wisata Cibiru Wetan bukan sekadar tempat rekreasi. Bagi mahasiswa asing yang ingin belajar budaya Indonnesia, khususnya yang ingin belajar budaya Sunda, desa ini menjadi ruang belajar yang sesungguhnya  tempat teori bertemu kehidupan nyata.

Kolaborasi antara Language Center Telkom University dan Desa Wisata Cibiru Wetan memperlihatkan bahwa pendidikan tidak selalu harus terjadi di balik dinding kelas. Kadang, pelajaran yang paling membekas justru datang dari dapur tradisional, dari tangan nenek yang mengajarkan angklung, dan dari sambutan hangat masyarakat yang membuka pintunya untuk dunia.

Ingin merasakan pengalaman serupa? Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan membuka berbagai paket kunjungan untuk kelompok, institusi pendidikan, maupun wisatawan umum.

Leave a Reply