Di Cibiru Wetan, Gerabah Glasir Bandung Raya Masih Bertahan

Produk Gerabah Glasir Bandung Raya

Gerabah glasir di Bandung Raya saat ini menjadi kerajinan yang cukup sulit ditemui. Tidak semua rumah produksi gerabah mampu memproduksi jenis gerabah ini. Namun hal tersebut berbeda dengan sebuah rumah produksi gerabah yang berada di Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan.

Dari luar, bangunan itu tampak seperti rumah biasa tanpa papan nama besar maupun etalase mencolok. Namun, begitu melangkah masuk, deretan pot tanah liat berukuran besar langsung menyambut pandangan. Sebagian masih berwarna cokelat basah, menandakan proses pengeringan yang belum selesai. Sebagian lainnya telah mengilap setelah melalui rangkaian proses yang cukup panjang.

Di sudut ruangan, jari dan kaki para perajin bergerak selaras memutar tanah di atas roda manual. Sementara itu, tungku pembakaran berdiri kokoh di bagian lain ruangan, siap menyala hingga suhu 750 derajat Celsius.

Rumah produksi ini bernama Keramik Gerabah. Tempat tersebut kini dikenal sebagai salah satu sentra gerabah glasir Bandung Raya yang masih bertahan hingga saat ini. Selain memproduksi gerabah, lokasi ini juga mulai dikenal sebagai tempat belajar membuat gerabah di Bandung Raya, karena pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatannya.

Di rumah produksi ini, tanah

 dari berbagai daerah dipertemukan dan diolah dengan penuh kesabaran. Setiap gumpalan tanah dibentuk perlahan hingga menjelma menjadi karya bernilai tinggi.

Namun proses tersebut tidak selalu berjalan mulus. Tidak semua tanah berhasil menjadi pot yang sempurna. Sebagian harus gugur di tengah perjalanan produksi

Lihat proses pembuatan gerabah melalui video Instagram berikut.

Warisan Turun-Temurun dari Kakek ke Generasi Ketiga

Di balik aktivitas produksi tersebut, terdapat sosok yang mengawasi setiap detail pengerjaan. Ia adalah Adit Supriyanto, yang akrab disapa Pak Adit. Ia merupakan generasi ketiga pengrajin gerabah dalam keluarganya, melanjutkan keahlian yang diwariskan dari kakek dan ayahnya.

Perjalanan usaha ini bermula di kawasan Kiaracondong, tepatnya di Bodogol. Di tempat itulah keterampilan dan disiplin sebagai perajin gerabah dibangun oleh keluarganya.

Sekitar lima tahun lalu, setelah pandemi mengguncang banyak sektor usaha, Pak Adit memutuskan untuk memindahkan aktivitas produksi dan bergabung dengan Desa Wisata Cibiru Wetan. Keputusan tersebut membuka peluang baru karena pengunjung tidak hanya dapat membeli produk, tetapi juga belajar langsung proses pembuatan gerabah glasir Bandung Raya yang masih mempertahankan teknik tradisional.

Kini, di antara putaran roda dan panas tungku, warisan keluarga itu terus berlanjut. Bagi Pak Adit, membuat gerabah bukan sekadar usaha, tetapi juga bagian dari identitas keluarga yang harus dijaga.

Rahasia Tanah dari Tiga Daerah di Jawa Barat

Untuk menghasilkan gerabah berkualitas, kemampuan membentuk tanah saja tidak cukup. Pemilihan bahan baku menjadi faktor penting yang menentukan hasil akhir.

Di rumah produksi ini, bahan baku tidak hanya berasal dari satu tempat. Tanah yang digunakan berasal dari beberapa daerah di Jawa Barat dengan karakter yang berbeda.

“Pertama, tanahnya kami ambil dari daerah Malangbong untuk bahan baku utama. Kedua, pasirnya dari daerah Nagreg. Ketiga, tanah pleretnya dari Purwakarta,” tutur Pak Adit sambil memantau para pekerja yang tengah membentuk gerabah.

Menurutnya, kualitas tanah saat ini tidak lagi sama seperti dahulu. Berbagai perubahan lingkungan dan aktivitas manusia turut memengaruhi kondisi tanah. Karena itu, sebagai pengrajin gerabah glasir Bandung Raya, Pak Adit harus semakin cermat dalam memilih dan mengolah bahan baku agar kualitas produknya tetap terjaga.

Proses Pembuatan Gerabah yang Penuh Risiko

Gerabah bukan sekadar dibentuk lalu dipasarkan. Ada perjalanan panjang yang harus dilalui sebelum sebuah pot benar-benar siap sampai ke tangan pembeli.

Semua dimulai dari tahap pembentukan yang masih dilakukan secara manual. Para pekerja mengandalkan ketelitian tangan dan kepekaan saat memutar roda tanah.

Menurut Pak Adit, kualitas tanah sangat memengaruhi proses tersebut.

“Kadang-kadang kalau tanahnya terasa seret, berarti ada kerikil kecil di dalamnya. Itu harus dibuang. Kalau tidak, nanti bisa menyebabkan gerabah pecah atau bolong saat dibakar,” jelasnya.

Tahap paling menegangkan datang saat proses pembakaran. Gerabah harus dibakar sebanyak dua kali dengan suhu tungku yang dapat mencapai sekitar 750 derajat Celsius.

Dalam satu kali pembakaran, kapasitas tungku maksimal hanya sekitar 20 pot. Namun berapa pun jumlahnya, biaya operasional tetap sama.

Sekali proses pembakaran dapat menghabiskan biaya hampir 1,2 juta rupiah. Jika satu saja pot pecah di dalam tungku, kerugian harus ditanggung sendiri oleh perajin.

Saat ini Pak Adit dibantu oleh beberapa pekerja, termasuk Abah Didi dan Pak Sumana yang telah bekerja selama puluhan tahun. Dengan sistem kerja borongan, para pekerja tetap harus dibayar meskipun ada produk yang gagal saat proses pembakaran.

Seluruh proses ini masih dilakukan tanpa bantuan mesin modern. Justru di situlah letak nilai dari karya gerabah glasir Bandung Raya yang dihasilkan di tempat ini. Setiap pot yang keluar dari tungku adalah hasil kesabaran, pengalaman, dan ketekunan para perajin.

Perbedaan Glasir dan Cat pada Gerabah

Produk Gerabah Glasir yang sudah jadi

Salah satu hal yang membuat produk di tempat ini berbeda adalah penggunaan lapisan glasir pada permukaan gerabah.

Glasir merupakan lapisan khusus yang mampu membuat permukaan gerabah tampak mengilap seperti kaca. Selain memperindah tampilan, glasir juga berfungsi melindungi gerabah agar lebih tahan panas, tidak mudah berjamur, serta tidak mudah luntur meskipun terkena air hujan.

Menurut Pak Adit, banyak orang masih mengira lapisan tersebut hanyalah cat biasa. Padahal keduanya memiliki perbedaan yang cukup besar.

Jika menggunakan cat, lapisan pada gerabah biasanya mudah mengelupas setelah beberapa waktu. Sebaliknya, glasir menyatu dengan permukaan gerabah saat proses pembakaran sehingga lebih kuat dan tahan lama.

Inilah yang membuat gerabah glasir Bandung Raya memiliki nilai lebih dibandingkan gerabah biasa.

Dari Cibiru Wetan hingga ke Mancanegara

Meski diproduksi di sebuah rumah sederhana di Desa Cibiru Wetan, karya gerabah milik Pak Adit telah menarik perhatian banyak pembeli. Setiap bulan, pesanan terus berdatangan dari berbagai daerah.

Sebagian besar produk dijual kepada para pengumpul atau reseller yang kemudian mendistribusikannya kembali ke berbagai kota.

Bahkan, rumah produksi ini pernah didatangi calon pembeli dari luar negeri, termasuk dari Portugal. Mereka datang untuk melihat langsung proses pembuatan gerabah glasir Bandung Raya sekaligus menjajaki kemungkinan kerja sama.

Namun sebagai usaha kecil, Pak Adit mengaku belum dapat memenuhi permintaan dalam jumlah besar yang biasanya disertai kontrak produksi.

Meski begitu, tungku di rumah produksi ini tetap menyala. Dari Desa Cibiru Wetan, tanah sederhana terus berubah menjadi karya bernilai tinggi yang menyimpan cerita panjang tentang ketekunan para pengrajin.

Belajar Membuat Gerabah di Desa Cibiru Wetan

Kini, di sebuah sudut Desa Cibiru Wetan, roda tanah itu masih terus berputar. Rumah produksi gerabah milik Pak Adit tetap bertahan, menjaga tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Tak hanya melayani pesanan gerabah, Pak Adit juga membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat kerajinan tanah liat ini. Pengunjung dapat datang untuk melihat langsung proses pembuatan gerabah glasir Bandung Raya, mulai dari pembentukan tanah hingga tahap pembakaran.

Bahkan, siapa pun yang tertarik dapat mencoba belajar membuat gerabah di Bandung Raya langsung dari para perajin yang telah menghabiskan puluhan tahun bekerja dengan tanah. Gerabah yang dibuat dalam proses belajar tersebut pun dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Dari tangan-tangan sederhana di desa ini, tanah liat terus berubah menjadi karya mengingatkan bahwa tradisi yang dijaga dengan kesabaran selalu memiliki cerita untuk diwariskan.

 

 

Leave a Reply