Contoh gerabah glasir bandung yang diproduksi

Masih Bertahan, Pengrajin Gerabah Glasir di Bandung Raya Ini Terus Berkarya

Dari luar, bangunan itu tampak seperti rumah biasa. Tidak ada papan nama besar atau etalase yang menarik perhatian. Namun begitu melangkah ke dalam, suasananya langsung berubah. Deretan pot tanah liat Bandung berjajar memenuhi ruangan. Sebagian masih berupa tanah basah, sebagian lainnya telah mengilap setelah melewati proses glasir dan pembakaran.

Di sudut ruangan, roda putar terus berputar mengikuti gerakan kaki para perajin. Jemari mereka perlahan membentuk tanah liat menjadi vas, guci, hingga pot tanaman. Di sisi lain, tungku pembakaran berdiri kokoh, siap mencapai suhu ratusan derajat Celsius.

Di tempat sederhana inilah gerabah glasir Bandung masih diproduksi secara manual. Bukan di pabrik besar, melainkan di sebuah rumah produksi di Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan yang hingga kini tetap mempertahankan teknik tradisio

Meneruskan Warisan Keluarga

Di balik rumah produksi tersebut ada Adit Supriyanto. Ia merupakan generasi ketiga yang meneruskan usaha keluarga di bidang gerabah.

Sejak kecil, Adit sudah terbiasa melihat ayah dan kakeknya bekerja dengan tanah liat. Keterampilan itu tidak dipelajari melalui sekolah khusus, tetapi diwariskan perlahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sebelum berada di Cibiru Wetan, keluarganya memproduksi kerajinan gerabah Bandung di kawasan Bodogol, Kiaracondong. Pandemi COVID-19 kemudian menjadi titik balik yang mengubah banyak hal.

Sekitar lima tahun lalu, Adit memindahkan aktivitas produksinya ke Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan. Keputusan tersebut tidak hanya membuat usahanya tetap berjalan, tetapi juga membuka peluang baru karena pengunjung kini dapat melihat langsung proses pembuatan gerabah.

Menurut Adit, pengrajin gerabah glasir Bandung Raya kini sudah semakin sedikit.

Memilih Tanah dari Tiga Daerah
Bagi Adit, kualitas sebuah gerabah ditentukan sejak tahap paling awal, yaitu pemilihan bahan baku.

Ia tidak menggunakan satu jenis tanah saja. Bahan baku berasal dari beberapa daerah di Jawa Barat yang memiliki karakter berbeda.

“Tanah utama dari Malangbong, pasir dari Nagreg, sama tanah pleret dari Purwakarta,” ujar Adit.

Campuran tersebut menghasilkan tekstur yang lebih kuat ketika dibentuk maupun dibakar.

Namun mendapatkan bahan baku berkualitas kini tidak semudah dulu. Perubahan kondisi lingkungan membuat karakter tanah ikut berubah sehingga proses pemilihannya harus lebih teliti dibandingkan beberapa tahun lalu.

Proses Pembuatan Gerabah yang Penuh Risiko

Sebelum menjadi sebuah pot atau vas, tanah liat melewati proses yang cukup panjang.

Tanah terlebih dahulu diolah hingga memiliki tingkat kelembapan yang sesuai. Setelah itu, tanah dibentuk menggunakan roda putar manual.

Pada tahap inilah pengalaman seorang perajin benar-benar diuji.

“Kalau terasa seret, biasanya ada kerikil kecil di dalam tanah. Harus langsung dibuang. Kalau tidak, nanti bisa pecah saat dibakar,” jelas Adit.

Setelah dibentuk, gerabah harus dikeringkan sebelum masuk ke tahap pembakaran.

Proses pembakaran menjadi tahap yang paling berisiko. Dalam satu kali produksi, tungku hanya mampu menampung sekitar 20 pot. Biaya operasionalnya pun mencapai sekitar Rp1,2 juta untuk sekali pembakaran.

Risikonya cukup besar. Jika ada satu gerabah yang retak atau pecah selama proses pembakaran, kerugian sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemilik usaha.

Meski begitu, proses tersebut tetap dipertahankan karena menjadi bagian dari kualitas yang ingin dijaga.

Tunggu, Ini Bukan Cat Biasa

Produk Gerabah Glasir yang sudah jadi

Banyak pengunjung sering penasaran, kenapa permukaan gerabah ini bisa terlihat mengilap dan cantik? Ternyata, rahasianya bukan pada cat biasa, melainkan penggunaan glasir.

Berbeda dengan cat biasa yang berisiko mengelupas seiring waktu, glasir adalah lapisan khusus yang menyatu kuat dengan tanah liat saat proses pembakaran suhu tinggi. Hasilnya? Gerabah tidak hanya lebih kokoh, tapi juga punya daya tahan ekstra.

Fungsi glasir pun bukan sekadar soal estetika. Lapisan ini membuat gerabah jadi lebih tahan panas, antijamur, dan warnanya tidak akan luntur meski sering terpapar air hujan. Inilah yang memberikan nilai lebih pada produk gerabah cibiru wetan. Tampilannya menawan, kualitasnya pun bertahan lama.

Dari Cibiru Wetan hingga ke Mancanegara

Meski diproduksi di sebuah rumah sederhana di Desa Cibiru Wetan, karya gerabah milik Pak Adit telah menarik perhatian banyak pembeli. Setiap bulan, pesanan terus berdatangan dari berbagai daerah.

Sebagian besar produk dijual kepada para pengumpul atau reseller yang kemudian mendistribusikannya kembali ke berbagai kota.

Bahkan, rumah produksi ini pernah didatangi calon pembeli dari luar negeri, termasuk dari Portugal. Mereka datang untuk melihat langsung proses pembuatan gerabah glasir Bandung Raya sekaligus menjajaki kemungkinan kerja sama.

Namun sebagai usaha kecil, Adit mengaku belum dapat memenuhi permintaan dalam jumlah besar yang biasanya disertai kontrak produksi.

Meski begitu, tungku di rumah produksi ini tetap menyala. Dari Desa Cibiru Wetan, tanah sederhana terus berubah menjadi karya bernilai tinggi yang menyimpan cerita panjang tentang ketekunan para pengrajin.

Belajar Membuat Gerabah di Cibiru Wetan

Kini rumah produksi tersebut tidak hanya menjadi tempat bekerja, tetapi juga menjadi bagian dari wisata kerajinan tradisional Bandung.

Pengunjung dapat melihat langsung seluruh proses pembuatan gerabah, mulai dari pengolahan tanah, pembentukan menggunakan roda putar, hingga proses glasir dan pembakaran.

Bagi yang ingin mencoba, tersedia pula sesi belajar membuat gerabah Bandung bersama para perajin yang telah puluhan tahun berkarya di bidang ini. Hasil karya yang dibuat pun dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Di tengah semakin sedikitnya pengrajin yang masih bertahan, rumah produksi ini menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus berhenti. Selama roda gerabah masih berputar, gerabah Cibiru Wetan akan terus memiliki tempat untuk dikenal oleh generasi berikutnya.

Tertarik untuk mencoba, jadwalkan kunjunganmu sekarang juga!

Leave a Reply