Sakola Desa Cibiru Wetan: Inovasi Desa Inspiratif di Jawa Barat

Pelaksanaan Sakola Desa Cibiru Wetan

Di balik perbukitan Bandung Timur, Desa  Cibiru Wetan perlahan mencuri perhatian masyarakat sebagai salah satu desa inspiratif di Jawa Barat. Bukan karena gemerlap wisata modern, melainkan karena sesuatu yang sederhana sebuah konsep belajar yang lahir dari desa itu sendiri.

Selama ini, proses belajar dan berbagi pengetahuan sering kali dipahami sebatas aktivitas formal, dengan batasan waktu, tempat, dan metode yang terasa kaku. Padahal, di sisi lain, masyarakat menyimpan begitu banyak pengetahuan lokal yang belum tersampaikan secara luas.

Dari situlah kegelisahan muncul. Bagaimana jika belajar bisa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari? Bagaimana jika setiap sudut desa dapat menjadi ruang belajar?

Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan. Warga mulai merancang cara belajar yang lebih terbuka melalui pengalaman, diskusi, hingga praktik langsung di lingkungan mereka sendiri. Dari proses inilah lahir sebuah gagasan yang kini dikenal sebagai metode Sakola Desa Cibiru Wetan.

Apa Itu Sakola Desa?

Sederhananya, sakola desa bukanlah lembaga pembelajaran formal, melainkan sebuah metode pembelajaran bersama yang tumbuh dari kehidupan masyarakat desa itu sendiri. 

Tidak ada ruang kelas, kurikulum baku, dan struktur baku. Metode ini hadir sebagai ruang belajar terbukan bagi siapa saja yang ingin berbagi pengetahuan, pengalaman, dan cara pandang secara  setara.

Dalam praktiknya, pendekatan ini sering kali disandingkan dengan musyawarah desa (musdes). Namun, ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Musdes berjalan dalam kerangka formal dengan aturan yang jelas, dipimpin oleh struktur kelembagaan, serta melalui tahapan yang cenderung kaku dan administratif. Tidak semua masyarakat merasa dekat atau memahami mekanisme tersebut.

Sementara itu, sakola Desa justru mengambil pendekatan yang lebih cair dan membumi. Proses belajar bisa terjadi melalui obrolan santai, diskusi ringan, hingga interaksi sehari-hari mengingatkan pada tradisi lama masyarakat desa seperti ngariung, ngawangkong, hingga berbagi cerita di ruang-ruang kebersamaan.

Melalui cara inilah, sakola Desa membuka peran setiap individu dalam masyarakat. Bukan sekadar forum untuk berbicara, tetapi ruang untuk saling menyadarkan, memahami, dan bertumbuh bersama. Dari kesadaran kolektif inilah kemudian lahir berbagai inisiatif, termasuk berkembangnya Desa Cibiru Wetan sebagai desa wisata berbasis edukasi.

Sederhananya, Sakola Desa Cibiru Wetan bukanlah lembaga pembelajaran formal, melainkan sebuah metode pembelajaran bersama yang tumbuh dari kehidupan masyarakat desa itu sendiri.

 

Latar Belakang Munculnya Sakola Desa Cibiru Wetan

Sakola Desa Cibiru Wetan lahir di tengah situasi yang tidak terduga yaitu saat masa pandemi COVID-19. Saat itu, aktivitas masyarakat dibatasi, ruang-ruang interaksi menyempit, dan banyak kegiatan desa harus beradaptasi dengan kondisi baru.

Di tengah situasi tersebut, kepala desa saat itu bersama beberapa anggota Badan Permusyawaratan Desa terlibat dalam kegiatan Satgas COVID. Sering kali mereka menghabiskan waktu dari sore hingga malam di posko yang didirikan secara sederhana di sebuah lahan kosong yang ada di area desa. Awalnya, ruang itu hanya berfungsi sebagai tempat berjaga dan memastikan keamanan masyarakat.

Namun, dari posko sederhana tersebut perlahan terisi oleh obrolan santai, diskusi ringan, hingga pertukaran gagasan mulai muncul secara alami. Tanpa direncanakan secara formal, ruang tersebut berubah menjadi tempat belajar bersama. 

Dari hal tersebut, muncul kesadaran bahwa masyarakat desa sebenarnya membutuhkan ruang belajar yang lebih fleksibel bukan yang kaku seperti forum formal, tetapi yang tumbuh dari kebutuhan dan pengalaman sehari-hari.

Diskusi yang awalnya sekadar mengisi waktu justru berkembang menjadi percakapan yang lebih dalam, membahas berbagai isu desa, mulai dari pengelolaan potensi hingga arah pembangunan.

Seiring waktu, intensitas diskusi semakin tinggi dan terasa memberi dampak nyata bagi para pesertanya. Dari sinilah muncul kesepakatan yang tidak tertulis bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar obrolan biasa, melainkan sebuah proses belajar bersama.

Dari momen sederhana di posko inilah, gagasan Sakola Desa Cibiru Wetan mulai menemukan bentuknya. Sebuah metode belajar yang lahir dari pengalaman, tumbuh dari kebersamaan, dan kemudian berkembang menjadi gerakan pembelajaran masyarakat yang lebih luas. dan menjadikan hal ini sebagai inovasi desa di Kabupaten Bandung yang lahir dari kebutuhan nyata masyarakat.

Metode Pembelajaran di Sakola Desa Cibiru Wetan

Metode Sakola Desa Cibiru Wetan bukanlah sistem pembelajaran formal seperti yang selama ini dibayangkan. Di dalamnya, semua orang berada pada posisi yang setara tanpa sekat jabatan, tanpa perbedaan latar belakang suku, ras, maupun agama. Setiap individu memiliki ruang yang sama untuk berbicara, berbagi, dan didengar.

Proses belajarnya berlangsung secara santai dan fleksibel, jauh dari kesan kaku seperti forum musyawarah formal. Diskusi dapat terjadi di mana saja di balai desa, di halaman rumah warga, bahkan di ruang-ruang sederhana tempat masyarakat berkumpul. Tidak ada batasan tempat, karena pada dasarnya setiap sudut desa adalah ruang belajar. Namun Desa Cibiru Wetan memiliki Saung Sakola Desa yang ada di kawasan Dome Awi, sebuah kawasan kreatif yang terletak di sebelah Kantor Desa Cibiru Wetan

Topik yang dibahas pun sangat beragam, mulai dari persoalan ekonomi, budaya, hingga isu-isu pembangunan desa. Menariknya, diskusi ini tidak hanya melibatkan warga, tetapi juga membuka ruang dialog antara masyarakat dan para pemangku kepentingan. Atau antara pemangku kepentingan Desa Cibiru Wetan dengan desa lainnya. Semua terlibat dalam percakapan yang setara dan partisipatif.

 

Sakola Desa Cibiru Wetan sebagai Inovasi Desa di Kabupaten Bandung

Kini, Sakola Desa Cibiru Wetan tidak lagi sekadar metode pembelajaran alternatif, melainkan telah berkembang menjadi sebuah gerakan yang lebih luas. Kehadirannya mulai terhubung dengan berbagai inisiatif di tingkat kabupaten, bahkan menjadi bagian dari diskursus pembangunan desa di Kabupaten Bandung.

Lebih dari itu, Sakola Desa menjelma sebagai bentuk nyata pemberdayaan masyarakat. Tanpa bergantung pada sumber daya besar, proses belajar tetap berjalan mengandalkan semangat kebersamaan, pengalaman, dan kesadaran kolektif warga. Di sinilah letak kekuatannya: belajar tidak lagi bergantung pada fasilitas, tetapi pada kemauan untuk bertumbuh bersama.

Seiring waktu, pendekatan ini mulai dilirik oleh berbagai pihak. Tidak sedikit desa yang menghubungi dan yang datang untuk belajar. Dalam beberapa kasus, Sakola Desa tidak hanya menjadi sesuatu yang dikunjungi, tetapi juga “dibawa pulang” sebagai inspirasi untuk diterapkan di tempat lain.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Sakola Desa Cibiru Wetan telah melampaui fungsi awalnya. Ia bukan hanya ruang belajar, tetapi juga menjadi model yang adaptif dan relevan untuk direplikasi. Di tingkat kabupaten, konsep ini bahkan mulai berkembang sebagai tren sebuah pendekatan baru dalam melihat kehidupan desa sebagai proses yang hidup, partisipatif, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, Sakola Desa bukan hanya tentang belajar, tetapi tentang memerdekakan cara masyarakat memahami pengetahuan.  Gerakan ini menjadi salah satu gerakan yang menjadikan Desa Cibiru Wetan sebagai desa inspiratif di Jawa Barat yang menghadirkan model yang menghadirkan model pembelajaran berbasis masyarakat.

 

 

 

Leave a Reply