Pelaksanaan Sakola Desa Cibiru Wetan

Sakola Desa Cibiru Wetan: Inovasi Desa Inspiratif di Jawa Barat

Di balik perbukitan Bandung Timur, Desa Cibiru Wetan perlahan mencuri perhatian berbagai kalangan. Mulai dari pemerintah daerah, akademisi, hingga desa-desa lain datang untuk belajar. Bukan karena infrastruktur megah atau anggaran besar, melainkan karena sebuah inovasi sederhana yang lahir dari kebutuhan nyata masyarakatnya.

Inovasi itu bernama Sakola Desa Cibiru Wetan. Program inilah yang menjadikan Cibiru Wetan sebagai salah satu desa inspiratif di Jawa Barat yang layak dijadikan rujukan.

Apa Itu Sakola Desa Cibiru Wetan?

Sakola Desa Cibiru Wetan bukanlah lembaga pendidikan formal. Program ini merupakan metode pembelajaran berbasis masyarakat yang lahir dari kehidupan desa itu sendiri. Tidak ada ruang kelas baku, kurikulum tertulis, maupun sekat jabatan atau latar belakang.

Dalam praktiknya, Sakola Desa menjadi ruang belajar terbuka bagi siapa saja. Warga dapat berbagi pengetahuan, pengalaman, dan cara pandang secara setara. Proses belajar bisa berlangsung di balai desa, halaman rumah warga, maupun ruang-ruang sederhana tempat masyarakat berkumpul.

Yang membedakannya dari musyawarah desa (musdes) adalah pendekatannya yang lebih cair dan membumi. Musdes berjalan dalam kerangka formal dengan aturan administratif yang jelas. Sebaliknya, program ini  menghidupkan kembali tradisi ngariung dan ngawangkong sebagai ruang berbagi pengalaman dalam suasana kebersamaan.

Kini, Desa Cibiru Wetan memiliki Saung Sakola Desa yang berada di kawasan Dome Awi. Kawasan kreatif ini terletak di samping Kantor Desa Cibiru Wetan. Tempat tersebut juga terbuka untuk dikunjungi sebagai bagian dari program Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan.

Berawal dari Posko Pandemi

Gagasan ini muncul pada masa pandemi COVID-19.

Saat itu, aktivitas masyarakat dibatasi dan ruang interaksi menyempit drastis. Kepala desa bersama beberapa anggota Badan Permusyawaratan Desa aktif dalam kegiatan Satgas COVID-19. Mereka sering menghabiskan waktu dari sore hingga malam di sebuah posko sederhana yang berdiri di area desa.

Awalnya, posko tersebut hanya digunakan sebagai tempat berjaga. Namun seiring waktu, ruang itu berkembang menjadi tempat berbincang dan bertukar gagasan. Diskusi berlangsung secara santai dan alami.

Dari situlah muncul kesadaran bahwa masyarakat membutuhkan wadah yang memungkinkan mereka belajar dari pengalaman satu sama lain secara lebih terbuka.

Apa yang awalnya hanya obrolan sederhana kemudian berkembang menjadi konsep yang kini dikenal sebagai Sakola Desa Cibiru Wetan.

Dari Ruang Diskusi Menjadi Inovasi Desa Jawa Barat

Kini, fungsi Sakola Desa Cibiru Wetan bukan hanya sebagai ruang belajar internal. Namun, telah berkembang menjadi berbagai inisiatif pembangunan di tingkat kabupaten dan menjadi bagian dari diskusi mengenai inovasi desa di Jawa Barat.

Pendekatan ini mulai dilirik banyak pihak. Tidak sedikit desa yang datang belajar dan ilmu yang didapatkan dijadikan inspirasi yang diharapkan dapat diterapkan di daerah masing-masing.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Sakola Desa Cibiru Wetan merupakan model yang adaptif dan mudah direplikasi. Proses belajar dapat terus berjalan tanpa bergantung pada sumber daya besar. Yang menjadi penggeraknya adalah semangat kebersamaan, pengalaman, dan kesadaran kolektif warga. Di situlah letak kekuatan utamanya.

Ruang Belajar yang Terus Tumbuh

Hingga hari ini, program ini terus berkembang sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat Desa Cibiru Wetan

Program ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak selalu lahir dari ruang akademik. Banyak pelajaran yang justru muncul dari pengalaman sehari-hari masyarakat yang hidup dan bekerja di lingkungannya sendiri.

Di tengah berbagai tantangan pembangunan desa, Sakola Desa menawarkan cara pandang yang berbeda: masyarakat bukan sekadar objek pembangunan, tetapi juga sumber pengetahuan yang dapat saling belajar dan bertumbuh bersama.

Bagi pemerintah desa, akademisi, maupun komunitas yang ingin melihat langsung bagaimana model pembelajaran berbasis masyarakat ini berjalan, Desa Wisata Edukasi Cibiru Wetan membuka ruang untuk kunjungan, diskusi, dan studi tiru.

Sebab terkadang, inovasi tidak lahir dari sesuatu yang rumit. Ia tumbuh dari percakapan sederhana yang terus dijaga dan dirawat bersama.

Leave a Reply